Mencintai Buah Hati dengan Tepat

What’s Yours?
November 11, 2015
REGISTRATION ONLINE DISCOUNT
April 18, 2016

Mencintai Buah Hati dengan Tepat

Mencintai Buah Hati dengan Tepat

Di salah satu ruang tunggu orangtua sebuah sekolah TK berkumpulah para orangtua murid yang sedang menunggu giliran menerima raport anak-anak mereka. Sekumpulan 3 orang ibu sedang ngobrol mengenai perilaku. Tiba pada saat salah satunya berkomentar, “Wah di kamar anak saya udah penuh sama mainan. Setiap kali ke mall dia udah tau tuh toko biasa beli mainan. Terus dia langsung tanya sama penjaga tokonya. Kalau ada mainan keluaran terbaru pasti papanya belikan. Kadang-kadang si saya kesel juga jadinya sekarang dia ga mau kalah sama temen-temennya. Kalau ada yang punya barang baru, pasti nuntut dibeliin yang sama. Papanya si ayo-ayo aja, sayanya yang pusing”. Lalu kemudian setelah beberapa saat seorang ibu yang lain menambahkah, “saya mau ngajarin anak saya aturan, yaahh paling ngga, bisa disiplin sedikit lah. Tapi dasar saya ga tegaan sih saya udah kasih aturan sama dia, mana yang boleh mana yang ngga. Misalnya kalau ke mall hanya boleh beli mainan 1 bulan sekali. Tapi tiap dia minta sebelum waktunya dan saya larang, yang ada di merengek, nangis-nangis. Liat muka melasnya, mulai deh hati saya luluh. Ga tega liat mukanya yang sedih itu”.

Memenuhi semua keinginan anak, tidak tega melihat tangisan anak, melayani segala keperluannya, dan berbagai macam tindakan lainnya merupakan wujud dari rasa cinta, rasa sayang orangtua kepada anak. definisi cinta sendiri merupakan kegiatan aktif yang dilakukan manusia terhadap objek lain, berupa pengorbanan diri, empati, perhatian, kasih sayang, membantu, menuruti perkataan, mengikuti, patuh, dan mau melakukan apa pun yang diinginkan objek tersebut yang dicintai. Cinta orangtua terhadap anak menciptakan pemikiran dan kebutuhan untuk menjaga kesejahteraan anak. Hal tersebut sah-sah saja, karena memang tugas orangtualah untuk menjaga anak-anaknya. Tapi ketika kita berbicara mengenai mendidik, aturan, pendisiplinan sarat di dalamnya. Sedangkan dalam proses pendisplinan, mensosialisisasikan aturan erat hubungannya prinsip-prinsip cinta di atas tidak bisa diterapkan secara utuh. Lalu apakah  kasih sayang terhadap anak berbenturan dengan penerapan pola asuh untuk membesarkan anak dengan disiplin bertolak belakang, tidak bisa berjalan berdampingan? Bagaimana menyikap rasa sayang dan implementasi disiplin yang bijaksana? Simak poin-poin penting di bawah ini.

Cinta itu harusnya membangun
Ternyata di dalam pengertian sebuah cinta terdapat banyak unsur. Salah satu unsur cinta yang penting dalam mendidik anak adalah tanggung jawab, perhatian dan menghargai. Unsur-unsur tersebut yang mengontrol diri orangtua agar rasa sayangnya kepada anak tidak malah menjadi boomerang. Yang harusnya mendidik anak menjadi individu bertanggung jawab, memahami disiplin, karena pengertian cinta yang salah kaprah atau kebabalasan malah terbetuk karakter anak yang merugikan diri sendiri dan orang lain, seperti: anak tidak mandiri, manja, dan tidak matang sesuai umurnya.
Orangtua yang baik perlu menyadari bahwa sebenarnya cinta yang dicurahkan kepada anak bersifat membangun. Membangun karakter positif. Dalam proses menumbuhkan karakter tersebut diperlukan tanggung jawab dan konsisten. Konsisten terhadap aturan pola asuh yang ditetapkan .

Lihat tujuannnya
Tujuan pola asuh setiap orangtua berbeda-berbeda tergantung dari nilai prioritas dan kebutuhan masing-masing keluarga. Apapun bentuknya, dalam proses implementasinya tujuan harus terus menjadi pandangan dasarnya. Misalnya demi untuk melatih anak menghargai waktu, ada jadwal kegiatan di rumah yang perlu dipatuhi. Ketika anak mencba untuk menyimpang dari jadwal tersebut dengan alasan tertentu, kita perlu mengingat tujuan dari aturan tersebut. Jangan karena tidak tega atau kasihan diberikan dispensasi berpegang kepada tujuan berguna membunuh rasa tidak tega pada saat menerapkan disiplin atau aturan tertentu. Biasanya individu yang berorientasi terhadap hasil akan lebih bisa megontrol dirinya.

Tahu menempatkan diri
Perilaku mencintai itu bisa berupa berupa kata-kata seperti ucapan kasih sayang, bisa juga berupa tindakan seperti memeluk mencium, merangkul, melayani, dll. Yang perlu diingat adalah implementasi perilaku cinta patut disesuaikan dengan situasi mendidik. Misalkan melayani kebutuhan anak demi untuk membantu anak meningkatkan kemampuan bantu dirinya. Supaya anak bisa bisa belajar memakai baju sendiri, ibu membantu mengajarkan langkah-langkah memakai baju, hingga saat anak sudah bisa memakai baju sendiri, ibu tidak lagi membantunya. Bukan terus-terus memakaikan bajunya sehingga anak merasa ketergantungan dengan ibu dan tidak bisa memakai baju sendiri. Dari sini bisa dilihat perbedaannya? Atau ketika anak berhasil melakukan sesuatu dengan baik, orangtua memberikan pelukan, pujian. Tapi ketika anak melakukan kesalahan, teguran juga merupakan salah satu ungkapan kasih sayang. Jadi tempatkan diri sebagai orangtua pemberi kasih sayang sesuai konteks dan tujuannya.

Sadar diri
Sebenernya perlakukan orangtua terhadap anak itu untuk kepentingan orangtua atau kepentingan anak? seperti halnya ada sang ibu yang hendak berangkat kerja, mengendap-endap keluar rumah agar anaknya tidak melihatnya pergi dan menangis gegerungan. Alasannya  “kasian kalau nangis, ga tega”. Tapi secara teori anak perlu mengetahui bila orangtua akan tidak berada bersama mereka selama beberapa waktu. Hal itu bertujuan untuk menghindari munculnya kecemasan pada diri anak, perasaan tidak nyaman, dan bisa meningkatkan kemampuan mengatasi emosi negatif pada diri anak. Memang ketika melihat ibu pergi ia akan menangis. Namun dengan diberi penjelasan pasti dan pengalihan, anak akan berhenti menangis setelah beberapa saat. Jadi perilaku mengendap-endap itu sebenarnya demi kepentingan si anak atau menghindari rasa sakit di hati orangtua ketika melihatnya menangis dan merasa sedih meninggalkannya?

Cinta berbeda dengan kasihan
Seperti penjelasan di atas, sebenarnya rasa kasihan lebih kepada perasaan subyek individu daripada obyek individu. Jadi kalau dalam konteks mendidik oranggtua perlu menekankan fokusnya kepada efek atau hasil yang ingin dicapai oleh obyek individu yang dalam hal ini adalah anak.
Jadi dengan adanya obyektivitas, orangtua bisa mengimplementasikan kasih sayang kepada anak dengan tepat dan bijaksana.

Dinda Nocyandri., M.Psi. Psikolog

Leave a Reply