parenting

Dulu aku memiliki banyak waktu untuk mempercantik diri, memilih baju, sepatu, tas yang serasi sebelum pergi ke suatu tempat. Riasan wajah dan tatanan rambut pun sangat kuperhatikan agar tampak indah. Sekarang, aku rela untuk memakai pakaian berdasar helaian pertama yang aku lihat di dalam lemari, hanya mengikat rambut tanpa menyisirnya, dan dengan riasan wajah apa adanya. Bahkan tas yang kuperhatikan hanyalah tas anakku, untuk memastikan segala kebutuhannya sudah siap dibawa. Tas ku? tidak ada, hanya dompet dan HP yang kuselipkan ke dalam tas anakku.

Dulu, aku memiliki banyak keinginan dan cita-cita yang ingin aku kerjakan. Waktu dengan bebas bisa ku atur dan pilih untuk bekerja. Uang hasil jerih payahku bisa kupergunakan untuk keperluan ku semata. Sekarang yang menjadi prioritas pikiranku adalah apakah menu yang akan aku buat untuk makanan anakku hari ini, apakah perkembangannya sesuai dengan usianya, adakah kebutuhannya yang belum terpenuhi?

Dulu aku disapa dengan nama ku, atau nama julukanku. Sekarang aku dipanggil dengan sebutan nama anakku.

Dulu di saat asisten rumah tangga sedang mudik, aku tetap bisa menata rumah sebersih, seindah yang ku mau. Sekarang, aku perlu menurunkan standar keapikan rumah, sebab tidak mungkin mengerjakan segala sesuatu seperti sebelumnya semenjak memperhatikan kebutuhan suami, merawat anak, mendampingi nya bermain, mandi, memberi makan, meninabobokan menjadi hal terpenting dalam rumah. Atau mengerjakan semua pekerjaan rumah setelah anakku tidur di malam hari, dan terkadang aku merindukan waktu tidurku. Tapi meskipun demikian, aku bahagia.

Dulu ketika aku sakit, aku bisa merebahkan diriku untuk beristirahat hingga kondisi membaik, menjaga asupan makanan dan obat dengan teratur. Sekarang, meskipun badan terasa melemah, aku perlu tetap siaga untuk menjaga dan mendidik anakku. Aku bisa berjalan dengannya, bermain bola dengannya, bernyanyi dengannya. Sakit kepala dan demam? Kukesampingkan. Aku perlu tetap ada untuknya.

Dulu setelah pulang bekerja atau beraktifitas, aku masih bisa memutuskan untuk meluangkan waktu berkumpul bersama dengan teman-temanku di suatu tempat, ngobrol dengan santai, ataupun sekedar menikmati acara TV. Sekarang, aku langsung melangkahkan kaki ke rumah seusai bekerja. bahkan kurasa remote TV merindukan jari-jariku menekannya untuk memilih saluran favoritku.

Ketika anakku sakit, aku dengan segera menghentikan semua aktifitasku, ijin dari pekerjaanku, mengabaikan tenggat waktu pekerjaan dengan resiko terkena sangsi demi memastikan keadaan anakku segera membaik. Dunia terasa berhenti berputar dan ingin mati rasanya ketika melihat anakku lemah karena sakit.

 

Banyak hal yang berubah semenjak peranku sebagai wanita bertambah, menjadi seorang ibu….

Prioritas hidupku bukan lagi aku..melainkan keluargaku.

Keindahan bukan lagi berpusat pada diriku, melainkan keindahan ahlak dan perilaku anakku.

Atensi orang lain bukan lagi terhadap diriku, melainkan kepada anakku.

Kebahagiaan dan keselamatan anakku berdiri tegap di atas keinginan dan ambisiku untuk berkarir

Karirku, peranku, fokus atensiku tidak lagi sama

Semuanya berubah.

 

Tapi anehnya ketika diriku bukanlah lagi yang utama, aku tidak merasa sedih, kecewa, marah ataupun cemas. Melainkan bahagia, dan puas. Bahagia melihat anakku bertumbuh dengan baik berkat sentuhanku, waktu yang dihabiskan bersama denganku. Puas melihatnya tersenyum bahagia karena ia tahu bahwa ibunya selalu ada untuknya. Aku adalah orang yang paling bangga di dunia ini, karena anakku bahagia memiliki aku, anakku mempercayai aku sebagai sosok yang bisa membantunya bertumbuh menjadi orang yang bahagia dan sejahtera.

 

Tulisan di atas merupakan refleksi dari pengalam dari banyak sosok ibu. Fokus wanita ketika sudah menjadi seorang ibu tidak lagi pada dirinya semata, melainkan pada anak-anaknya. Berdasarkan hasil polling dari seorang psikolog pendidikan, ternyata banyak ibu yang mempunyai harapan supaya anaknya bertumbuh menjadi sosok mandiri. Lalu selain itu fokus utama ibu adalah mengembangkan potensi anak-anaknya. Tak sedikit pula ibu-ibu yang memiliki kesulitan untuk mewujudkan harapan-harapan mereka.

Biasanya ibu sebagai orangtua terlalu fokus pada potensi anak semata. Namun sebenarnya potensi tanpa didukung oleh karakter dan minat yang kuat, tidak akan teraktualisasikan secara optimal. Pada sebuah buku yang berjudul “Talent is Never Enough” dikatakan bahwa bakat atau kecerdasan anak tidak cukup sebagai modal kesuksesan pribadi

 

Banyak ibu yang beranggapan bahwa potensi atau bakat sama dengan minat. Sebagai wanita dan ibu yang cerdas, perlu dipahami bahwa kedua hal tersebut adalah hal yang berbeda. Jika potensi memang bisa dikatakan dengan kecerdasan, bakat seperti bermusik, berbakat dalam bahasa, logika matematika, kinestetik dan sebagainya. Namun ketika berbicara mengenai minat, maka yang mencari kunci utama adalah sesuatu ynag bersifat sebagai faktor pendorong. Pendorong untuk lebih lagi mengembangkan bakat, terdorong untuk lebih giat belajar. Faktor pendorong itu bissa dkatakan sebagai impian. Impian lebih dari cita-cita. Jika cita-cita dikaitkan dengan jenis pekerjaan untuk menghidupi diri, namun impian memiliki nilai kepuasan hidup. Bisa saja seseorang bekerja sebagai dokter, tapi bukan itu impianna. Tapi di satu sisi ada orang yang bermimpi bisa menjadi seorang penulis, karena disamping pekerjaan ia merasa puas jika banyak orang terbantu oleh informasi yang disampaikannya.

 

Unsur pendukung potensi lainnya adalah karakter. Orangtua pada umumnya berpikir bahwa karakter perlu dimiliki agar aak bisa berperilaku sesuai dengan norma-norma yang ada di lingkungan sosial. Tapi sebenarnnya peran karakter jauh lebih dalam dari pada itu. Ibu yang cerdas tentunya sadar bahwa anak-anak kita sekarang sudah tidak lagi hidup di area teknologi, namun di area perkerja pengetahuan dan informasi. Di area ini sumber manusia tidak lagi diperlukan sebanyak dulu karena semua sudah digantikan oleh teknologi. Lalu era informasi semua sudah bergerak dengan sangat cepat. Proses pengiriman surat sudah tidak lagi memerlukan waktu berhari-hari, melainkan tinggal tekan tombol “send” surat sudah dapat terkirim dan dibaca dalam hitungan menit. Bisa kah anak-anak kita bekerja cepat, berdaya saing yang tinggi dan tidak mudah menyerah? Karakter-karakter ini lah yang perlu menjadi atensi bagi orangtua.

 

ibu yang hidup di masa sekarang adalah ibu yang perlu menjadi “coach” bagi anak-anak nya melalui menlatih anak untuk lebih banyak berpikir, memcahkan masalah. Sebagai orangtua kita tidak perlu menyelesaikan masalah anak, melainkan mengarahkannya agar ia dapat menyelsaikan masalah secara mandiri. Lalu  berikan anak lebih banyak kesempatan meningkatkan kreatifitasnya.

Wanita smart adalah ibu yang sempurna bagi anak-anaknya. Sebab kesadaran yang tinggi akan pentingnya karakter dan aktif menstimulasi anak untuk memiliki mimpi , pandangan yang terbuka atas dinamika dunia pendidikan, serta kasih sayang yang bertujuan untuk mendidik anak adalah faktor-faktor penting bagi tumbuh kembang anak.

 

Sebagai ibu selama proses mendidik pasti akan berbenturan dengan saat-saat sulit. Tapi sebagai ibu juga, kita sudah dibekali oleh kemampuan untuk menghadapi tantangan dan hambatan. Jadi ketika sedang merasa lelah dan ingin menyerah, kita perlu ingat bahwa ketika fokus kehidupan sudah tidak terhadap pada diri sendiri lagi, disaat itulah muncul kekutan dari seoran ibu.

 

Sebagai wanita, kita patut Berbahagia. Ibu adalah sosok yang hebat. Segala kesulitan dan tantangan, rasa letih dan pengorbanan adalah kebahagiaan di mata seorang ibu. Hanya Ibu yang mampu dengan tulus memandang dan menikmatinya sebagai sebuah saluran berkat, dan ibu lah penentu kebahagiaan dari suatu rumah tangga

Oleh : Dinda Nocyandri,M.Psi., Psikolog

 

 

Artikel ini dibuat oleh Psikolog dari Tes Bakat Indonesia dan pernah terbit di majalah Female, 2014
August 26, 2019

Wanita Smart adalah Ibu yang Sempurna

Dulu aku memiliki banyak waktu untuk mempercantik diri, memilih baju, sepatu, tas yang serasi sebelum pergi ke suatu tempat. Riasan wajah dan tatanan rambut pun sangat […]
August 5, 2019

Mempersiapkan Mental Anak Menghadapi Ujian

Di musim liburan ini, tepatnya di momen kelulusan, menjadi momok serius yang dihadapi oleh anak. Waktu dan tenaga nya akan terkuras demi persiapan ujian masuk PTN/PTS. […]
August 1, 2019
Mendidik Anak Lebih Mandiri

Mendidik Anak Lebih Mandiri

Pasti banyak dari kita, khususnya orang tua yang memiliki anak yang beranjak dewasa alias remaja. Pada fase pertumbuhan ini, remaja cenderung egois dan manja karena dirinya […]
August 1, 2019

Mendidik Anak Generasi Z

Mendidik anak Generasi Z   Saat ini pasti parents sering mendengar istilah generasi Milenial atau generasi Y di sekitar kita. Kini generasi baru dibawahnya mulai muncul […]